Sabtu, 16 Juni 2012

Bahasa-Bahasa Austronesia

Wilhelm Schmidt seorang sarjana Austria membagi rumpun Austria menjadi dua rumpun:

1. Bahasa-bahasa Austro-Asia
yaitu bahasa-bahasa yang terdapat di daerah Asia Tenggara:
- bahasa Khasi
- bahasa Nikobar
- Mon
- Khmer
- Munda
-
- Tsyam
- Palaung-Wa
- Annam-Muong
- Semang-Sakai

2. Bahasa-bahasa Austronesia
terbagi dua :
a. bahasa-bahasa Nusantara
- bahasa Malagasi
- bahasa Formosa
- bahasa-bahasa di kepulauan Filiphina
- bahasa Melayu
- Jawa
- Batak
- Bali
- Dayak
- Sika
- Solor
dll.

b. bahasa-bahasa Ocenia
- Malanesia :
    * New Caledonia
    * Hibrid
    * Fiji
    * Salomon
    * Santa Cruz

- Polinesia:
   * Maori
   * Hawaii
   * Tahiti, dll.

Daerah penyebaran bahasa-bahasa Austronesia terbentang dari Pulau Madagaskar di sebelah barat sampai ke Pulau Rapanui (Paskah) di sebelah timur, dekat pantai barat Amerika Selatan, serta dari Selandia Baru di sebelah selatan sampai ke Taiwan di sebelah utara.

Rumpun Bahasa

Rumpun bahasa berdasarkan genealogi (=asal-usul dan sejarah perkembangan yang sama):

1. rumpun Indo-Eropa:
- bahasa German
- bahasa Keltik
- bahasa Baltik
- bahasa Slavia
- Albania
- Yunani
- Armenia
- Indo-Iran

2. rumpun Semito-Hamit:

3. rumpun Finno-Ugria

4. rumpun Ural-Altai

5. rumpun Sino-Tibet

6. rumpun Austria :
- rumpun Austro-Asia
- rumpun Austonesia

7. bahasa-bahasa lain di Asia dan Ocenia yang tidak masuk salah satu rumpun di atas:
- bahasa Irian
- bahasa Dravida
- bahasa Australia
- bahasa Andaman

8. rumpun bahasa bantu

9. rumpun bahasa-bahasa Sudan

10. bahasa-bahasa Khoisan: bahasa-bahasa orang kerdil di Afrika

11. bahasa-bahasa Amerika Utara:
- Algonkin
- Irokes
- Penutia
- Sioux
- Uto-Aztek
- Athabascan

12. bahasa-bahasa Amerika Tengah:
- Maya
- Otomi
- Mixe-Zoke

13. Bahasa-bahasa Amerika Selatan:
- Arawak
- Karibi
- Tupi-Guarani


Perkembangan Bahasa Indonesia pada Masa Kolonial dan Pergerakan

     Pada masa orang Barat sampai ke Indonesia abad XVI mereka menghadapi kenyataan bahwa bahasa Melayu sudah resmi menjadi bahasa pergaulan dan bahasa perdagangan. Bahasa Portugis maupun Belanda mendirikan sekolah-sekolah. Mereka kemudian terbentur masalah bahasa. Usaha pemakaian bahasa mereka (Portugis/Belanda) selalu mengalami kegagalan. Akhirnya keluar keputusan dari pemerintah kolonial, K.B. 1871 No. 104, yang menyatakan  bahwa pengajaran di sekolah-sekolah  bumi putera dilakukan dalam bahasa daerah atau bahasa Melayu.
       Pada tahun 1908 pemerintah Belanda mendirikan suatu komisi yang disebut Comissie voor Volkslectuur diketuai Dr. G.A.J. Hazeu. Kemudian komisi ini berubah nama menjadi Balai Pustaka pada tahun 1917. Kegiatan badan ini membantu penyebaran dan pendalaman bahasa Melayu  karena menerbitkan buku-buku  murah berbahasa Melayu. Pada 25 Juni 1918 Ratu Belanda menetapkan bahwa anggota Volksraad (DPR) bebas menggunakan bahasa Melayu dalam kegiatan mereka.
     Untuk menyatukan rakyat Indonesia perlu satu bahasa yang diakui bersama. Untuk hal ini organisasi Jong Java dan Jong Sumatra telah memilih bahasa Melayu. Dalam kongres II Jong Sumatra dengan tegas dinyatakan untuk memakai bahasa Melayu Riau, bahasa Melayu tinggi, untuk dipakai sebagai bahasa persatuan.
     Surat kabar-surat kabar yang terbit pada masa itu pun telah memakai bahasa Melayu, misalnya: Bianglala, Bintang Timur, Kaum Muda, Neratja. Pengaruh mereka sangat besar dalam memasyarakatkan bahasa Melayu.
     Puncaknya adalah terjadinya peristiwa Kongres Pemuda yang sangat terkenal itu pada 28 Oktober 1928 di Jakarta yang menyatakan:
"Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan - Bahasa Indonesia."

Perkembangan Bahasa Indonesia pada Masa Kerajaan Sriwijaya

     Perkembangan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia mengalami proses berabad-abad lamanya. Di wilayah Nusantara sudah terkenal sebuah bahasa perhubungan, lingua franca, yang disebut Melayu Pasar. Melayu pasar inilah yang menjadi faktor penting diterimanya Melayu Riau menjadi bahasa pengantar di sekolah-sekolah.
     Walaupun bukti-bukti masih kurang, namun dapat dipastikan bahwa bahasa yang dipakai  oleh kerajaan Sriwijaya  pada abad VII adalah bahasa Melayu. Bukti-bukti tertulis ditemukan sekitar tahun 680 M: di Kedukan Bukit berangka tahun 683 , Talang Tuwo 684, Kota Kapur 686, dan Karang Brahi 688.  Sriwijaya adalah sebuah kerajaan maritim yang memiliki armada perkapalan buat perdagangan. Orang-orangmya menjelajah pelosok tanah air dan memperkenalkan bahasa Melayu untuk mempermudah hubungan perdagangan dengan penduduk Nusantara. Bukti yang ditemukan adalah sebuah prasasti di Pulau Jawa di daerah Kedu yang terkenal dengan nama Inskripsi Gandasuli yang berangka tahun  832, yang menggunakan bahasa Melayu Kuno. Bukti lainnya adalah adanya dialek bahasa Melayu di berbagai daerah Nusantara seperti dialek Melayu Ambon, dialek Melayu Jakarta, dialek Melayu Kupang, dll.
     I Tsing, seorang musafir Tiongkok yang bertahun-tahun belajar di Sriwijaya pada akhir abad VII menggunakan bahasa Kwu'un Lun yang tidak lain adalah bahasa Melayu Kuno.

Dialek dan Idiolek

A. Idiolek
     Bila kita membandingkan  bahasa seseorang dengan bahasa seorang yang lain, maka akan tampak bahwa setiap orang memiliki beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki orang lain, walaupun mereka sama-sama anggota dari suatu masyarakat bahasa. Abiq dalam kebiasaan sehari-harinya suka mengucapkan kata  "ya kan", sedangkan temannya Imron tidak suka dengan kebiasaan seperti itu. Pilihan kata pun dalam mengungkapkan sesuatu berbeda antara satu orang dengan orang yang lain, namun mereka sebenarnya pemakai satu bahasa, perbendaharaan dari satu bahasa. Tutur kata setiap anggota masyarakat bahasa yang ditandai perbedaan-perbedaan kecil semacam itu disebut idiolek.


B. Dialek
     Setiap kelompok idiolek mempunyai persmaan yang khas dalam tata bunya, kata-kata, ungkapan-ungkapan, dan lain-lain. Tiap kumpulan mempunyai ciri tertentu yang membedakannya dengan kumpulan yang lain. Dalam bahasa Melayu kita mengenal ada Melayu Jakarta, Melayu Ambon, Melayu Medan. Dalam bahasa Jawa, terdapat perbedaan bahasa Jawa yang dipakai orang Surabaya dengan yang dipakai orang Semarang. Tiap-tiap perbedaan itu merupakan suatu kesatuan yang disebut dialek. Jadi, ada dialek Melayu Jakarta, dialek Melayu Medan, dialek Jawa Surabaya, dialek Semarang, dan lain-lain.

Kalimat Majemuk




Kalimat  majemuk adalah kalimat yang merupakan penggabungan dari dua buah kalimat tunggal.

Macam-macam kalimat majemuk:
1.       Kalimat majemuk setara
2.       Kalimat majemuk bertingkat
3.       Kalimat majemuk campuran

A.      Kalimat  Majemuk Setara
Dalam kalimat majemuk setara kedudukan pola-pola kalimat sama tinggi, tidak ada pola kalimat yang menduduki satu fungsi dari kalimat yang lain.

 Macam-macam kalimat majemuk setara:
1.       Setara menggabungkan
Penggabungan itu dapat terjadi dengan merangkaikan dua kalimat tunggal dengan diantarai  kesenyapan antara  atau dirangkaikan dengan kata tugas sperti: dan, lagi, sesudah itu, karena itu
-          Ahim membaca Alquran dan Imron menghafal hadis.
-          Syifa telah mempelajari secara mendalam ilmu ekonomi dan perbankan syariah,  setelah itu ia mendirikan bank  sendiri.

2.       Setara memilih
Kata tugas yang dipakai untuk menyatakan hubungan ini adalah  atau.
-          Kautinggal saja di sini atau pergi merantau mencari ilmu.
-          Lakuka sesuatu atau engkau akan menyesal selamanya.

3.       Setara mempertentangkan
Kata tugas yang dipakai dalam hubungan ini adalah: tetapi, melainkan, hanya.
-          Sudah sepantasnya Edi Purnomo menikah, tetapi  sampai hari ini ia acuh tak acuh saja jika ditanya.
-          Bukan harta berlimpah yang ia inginkan, melainkan ketenangan hidup dalam keberkahan iman dan harta yang halal.
-          Ia tahu hal itu dosa, hanya setan laknatullah telah menguasai dirinya.


B.      Kalimat  Majemuk  Bertingkat
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat yang hubungan pola-polanya  tidak sederajat. Salah satu pola menduduki fungsi lebih tinggi dari pola lain. Bagian yang lebih tinggi disebut  induk kalimat, bagian yang lebih rendah disebut  anak kalimat.

Sesuai dengan fungsinya anak kalimat dapat  dibagi atas:
1.       Anak kalimat yang menduduki fungsi inti (subjek atau predikat)
Contoh:
Yang harus menyelesaikan pekerjaan itu telah meninggal dunia sehari yang lalu.
Yag harus menyelesaikan pekerjaan itu adalah anak kalimat yang menduduki fungsi sebagai subjek.

2.       Anak kalimat yang menduduki fungsi tambahan
a.       Sebagai pelengkap
Contoh:
·         Ia tidak mengetahui bahwa kami telah pergi meninggalkan Kampung Banda Gadang selama-lamanya.
·         PT  Yura Islami Internasional telah menganugerahkan sepuluh ribu rumah kepada para fakir miskin yang telah terbukti dan teruji menjalani hidup dalam kejujuran dan keimanan.

b.      Sebagai keterangan
·         Ibrahim telah merubuhkan seluruh patung yang telah dijadikan sembahan oleh kaumnya.
·         Rasulullah Muhammad SAW tak pernah berhenti meminta kepada Allah agar umatnya diselamatkan dari berbagai fitnah yang membinasakan iman mereka.
·         Muhammad lebih memilih dakwah ketika ia ditawari dengan harta, kekuasaan, dan wanita.

Kadang perluasan kalimat terjadi sedemikian rupa sehingga rangkaian hubungan itu sangat kompleks.  Ada pola kalimat dalam satuan yang kompleks itu yang menduduki fungsi lebih rendah dari anak kalimat. Bagian ini disebut  cucu kalimat.
Contoh:
Sepanjang jalan itu telah ditanam pepohonan yang rindang  yang dapat memberi keteduhan pada orang-orang desa yang setiap hari berjalan kaki pulang pergi ke kota.


C.      Kalimat majemuk campuran
Kalimat majemuk campuran dapat terdiri atas:  a) satu induk kalimat dan dua anak kalimat atau  b)dua induk kalimat dan satu anak kalimat.
Contoh:
a)      Kami telah menyelenggarakan sebuah  tablik akbar yang dihadiri oleh masyarakat Pematang Pudu serta dihadiri pula oleh para pejabat kecamatan dan kelurahan.
b)      Pak Yudi mengajarkan cara menulis puisi yang benar dan Pak  Salman mengajarkan teknik berpidato yang memikat  agar siswa SMA IT Mutiara mempunyai bekal yang memadai dalam hal keterampilan berbahasa.






Rabu, 13 Juni 2012

Partikel kah, tah, lah, pun

Partikel adalah semacam kata tugas yang mempunyai bentuk sangat ringkas dan kecil dan mempunyai fungsi  tertentu.

A. Partikel  kah
Fungsi:
1. memberi tekanan dalam pertanyaan, kata yang dihubungkan dengan kah itu dipentingkan.
- sawah atau ladangkah yang digarapnya?
- bekerja atau bermalas-malasankah dia?

2. dipakai untuk menyatakan hal yang tak tentu, sebenarnya hal itu pertanyaan juga , tetapi pertanyaan yang tidak langsung
- datangkah atau tidakkah, kami tidak tahu
- terserah padamu, mau menerimakah atau tidak lamaran Buya Adi Balai Masiang


B. Partikel tah
Fungsi partikel tah ini sama dengan kah, tetapi lebih terbatas pemakaiannya hanya pada kata tanya : apatah, manatah, siapatah. Bentuk-bentuk ini lebih sering ditemui pada bahasa Melayu lama. Saat ini kurang dipakai. Makna pertanyaan dengan partikel tah adalah meragukan atau kurang tentu.


C. Partikel  lah
Fungsi:
1. mengeraskan kata yang menunjukkan perbuatan
- bacalah dengan nyaring!
- datanglah ke Banda Gadang saat Lebaran!

2. mengeraskan kata keterangan
- tiadalah ada aral yang bisa menghalangi Ayahibrahim untuk pulang kampung menengok amaknya
- apa pun yang terjadi, pastilah ditempuhnya juga untuk menghapus dosa-dosanya

3. menekankan kata ganti orang yang terletak di awal
- kamulah yang harus memulai memperbaiki dirimu sendiri
- engkaulah yang telah memulai, maka engkau pula yang harus menyelesaikannya



D. Partikel  pun

Fungsi:
1.mengeraskan atau memberi tekanan pada kata yang bersangkutan
- dia pun mengetahui hal itu
- Abiq pun bisa membawa truk balak

2. mengandung arti perlawanan
- mengorbankan nyawa sekali pun aku rela
- betapa pun ia berjuang, takdir telah putus

3. gabungan pun dan lah mengandung aspek inkoatif
- mereka pun berhentilah
- ia pun duduklah di bawah pohon ketaping