Sabtu, 19 November 2011

Nabi Terakhir Bukan di Arab Tetapi di Hari Kiamat

Tentu saja saya tidak menggunakan definisi Nabi dalam kamus agama, khususnya agama Islam. Karena Nabi dalam agama Islam adalah seorang utusan Tuhan yang menerima wahyu. Yaitu orang-orang yang menerima semacam bisikan kebenaran yang diberikan langsung oleh Tuhan. Dan itu diyakini bersifat mahsum atau adi kodrati. Bukan sebuah peristiwa alamiah biasa.

Tapi karena kosa kata Nabi sudah terlanjur digunakan,

maka secara sosio lingusitik, saya terpaksa tetap menggunakannya. Akan tetapi kata Nabi ini bagi saya adalah orang-orang yang tercerahkan di zamannya. Sehingga keberadaannya menjadi obor pencerahan bagi orang-orang disekitarnya. Melalui mereka, banyak orang belajar bagaimana sebaiknya dalam menjalani dan memaknai hidup.

Nah, karena itu saya berpandangan, bahwa Nabi, orang-orang yang tercerahkan, akan selalu muncul di setiap zaman. Di setiap tempat.

Kenapa bisa selalu? Karena Kenabian itu tidak memihak. Tidak hadiah dari suatu agen eksternal. Tapi muncrat mengalir dalam dirinya sendiri, sebagai hasil dari pergulatannya yang intens dengan hidup dan misteri hidup. Mereka berpikir, merenung, lalu menjalani hasil budi daya pikir itu dalam kehidupannya. Dan itu kemudian juga dibagikannya pada orang lain, melalui karya nyata, sikap dan perbuatannya.

Karena itu bagi saya, Nabi, orang-orang yang tercerahkan, selalu ada dimana-mana. Dan kapan saja. Hanya saja, ada derajat keutamaan diantara mereka. Ada yang bersinar hanya di ruang lokal. Tapi juga ada yang menjulang kemana-mana. Ada yang bertahan dalam kurun waktu tertentu. Tapi juga ada yang bertahan dalam bentangan waktu yang sangat panjang.

Mereka itu, bagi saya bisa seorang spiritualis, pemikir, ilmuwan, orang-orang bijak, psikolog, para trainer, bahkan para blogger, facebooker dan seterusnya di dunia maya. Singkatnya, siapa pun mereka asal kehadirannya menginspirasi banyak orang untuk hidup yang lebih baik.

Dan apa yang mereka dapatkan, bagi saya bukan sebuah pemberian. Tapi adalah hasil gapaian. Karena itu sebuah gapaian, maka siapapun berpeluang untuk mendapatkannya, dimana peluang itu sejalan dengan usaha yang mereka lakukan. Dan itu bukan sebuah ambisi. Tapi sebuah perjalanan atau petualangan hidup yang alami. Mereka tidak menargetkan bahwa akhirnya mereka harus menjadi seorang Nabi atau orang-orang yang tercerahkan. Tapi adalah perjalanan alamiah merekalah yang membuat mereka akhirnya bersinar, yang kadang diluar perkiraannya sendiri.

Tapi bagaimana pun, semua itu tetaplah sebuah proses alamiah. Sebuah evolusi kesadaran yang tiada henti, di sepanjang bentangan sejarah kemanusiaan. Sampai titik akhir sepanjang kehidupan itu masih ada. Karena bagi saya, spirit kebenaran akan selalu memancar dimana-mana. Dengan kata lain, bagi saya tidak ada istilah Nabi terakhir adalah si A atau si C, yang muncul di Arab atau di planet Pluto. Bagi saya kenyakinan seperti itu adalah pengingkaran terhadap gerak alamiah kehidupan. Penolakan akan kodrat atau natur kehidupan yang kenyataannya terus dan selalu berkembang.[Sumber]





Tidak ada komentar:

Posting Komentar